Pengantin
Pertunangan ini ditentukan sejak azali
Untuk sebuah masa diujung hidup nanti
Berlangsungnya perkawinan dengan maut
Hantarannya sakit dan nazak sakaratul maut
Tamu bertandang menghadiahlkan isak tangis
Pengantin dimandikan
Keranda jadi pelamin
Pemgantin bersanding sendirian diarak keliling kampong
Berkumandang adzan dan kalimah suci
Akad nikahnya bacaan talking berwalikan liang lahad
Saksi pula gundukan tanah-tanah pekuburan
Berhiaskan rerumput ilalang dan bunga kamboja
Tiba masa pengantin menunggu sendirian
Malam pertama bersama kekasih
Di kamar berselimutkan tanah
Dia menuntut janji, sucikah kita tatkala berpadu
Pernahkah taubat sepanjang hayat
Atau terkubur bersama dosa-dosa
Dan Dia kekasih itu menetapkanmu di surga
Atau melemparkan dirimu ke neraka
from : majalah mutiara amaly vol 16
nailul berkata,
Agustus 26, 2007 @ 6:33 am
waah puisine apik tenan. mripatku malih mbrebes
tantan berkata,
Nopember 24, 2007 @ 1:43 am
dilihat sekilas, puitis banget. tapi dibaca seksama agak kurang ngerti